Mungkin karena sedang kangen dengan Kupang, saya jadi teringat dengan pengalaman saya selama seminggu disana. Tidak pernah terpikirkan bahwa suatu hari saya akan menginjakkan kaki disana. Tapi, setelah saya dan keluarga pergi kesana, setiap pengalaman terasa sangat mengesankan.
Berawal dari niat kami untuk mengunjungi Isti dan Iqbal, adik kami yang sudah menikah dan tinggal di Kupang maka berangkatlah kami pada awal Juli 2013. Karena tujuan kami cukup jauh,saya dan suami sengaja mengambil cuti yang panjang agar puas menikmati Kupang. Percuma dong pergi jauh-jauh kalau cuma sebentar, hehehe.....Tentunya, kami berangkat dengan Bapak dan Ibu, kedua orang yang paling berminat untuk mengetahui bagaimana kabar adik kami di Kupang. Saat itu, Bapak dan Ibu baru saja pensiun, jadi sangat bersemangat untuk berpetualang :) Maklum, kami semua sejak lahir sampai dewasa tidak pernah jauh dari Jawa Barat, hehe..
Berhubung kami berempat belum pernah naik pesawat, kami betul-betul "manut" mengikuti segala instruksi Isti, hehehe......Mulai dari cara memesan tiket, berat barang bawaan yang disimpan di bagasi, jenis barang yang boleh disimpan di bagasi, cara check in, dsb. Pokoknya, kami merasa excited sekaligus berdebar-debar, hehehe.
Pagi itu, Mang Ade, paman saya, berbaik hati mengantar kami ke bandara. Setelah menunggu cukup lama di Bandara Soetta, akhirnya kami berangkat pada pukul 11 siang dengan pesawat Sriwijaya Air. Kami sempat transit beberapa menit di Bandara Juanda, Surabaya. Terlintas di pikiran saya bahwa Bandara Juanda jauh lebih bersih dan rapi dibandingkan Bandara Soetta. Kenapa ya ?Hmmm....ya sudahlah....
Akhirnya kami menginjakkan kaki di Kupang pada sore hari . Kupang ini termasuk daerah Waktu Indonesia Tengah jadi perjalanan terasa cukup lama saya rasakan. Adik kami sudah menunggu di tempat penjemput di Bandara El Tari, tidak jauh dari rumahnya yaitu di Penfui. Setelah kami sampai di rumah, ternyata Bandara El Tari memang terletak di belakang rumahnya.
Penfui tidak terletak di pusat kota jadi suasananya sangat tenang. Bahkan, hanya sesekali terdengar suara angkot lewat dengan suara musiknya yang cukup bising. Rumah adik dikelilingi oleh pepohonan dan semak belukar
Sesekali ada beberapa kerbau yang datang merumput di halaman belakang. Saya betah berlama-lama duduk di halaman belakang menikmati pemandangan ini ditemani si Pus dan sambil dikipasi angin yang berhembus kencang :-)
Rumah adik bersebelahan dengan beberapa tetangga yang juga teman kerja Iqbal, suami adik. Tetangga disini sangat baik dan ramah. Salah satu tetangga meminjamkan motornya untuk kami pakai berkeliling-keliling Kupang selama beberapa hari. Bahkan, ada seorang teman Iqbal (yang bukan tetangga) yang menawarkan mobilnya agar kami bisa berwisata ke pantai yang jauh lokasinya. Tentu saja kami menolaknya karena sungkan, walaupun........sangat menggiurkan :-)
Pada hari-hari berikutnya, Bapak memulai aksinya untuk "merapikan" rumah. Bapak memangkas semak belukar, memperbaiki kabel listrik, memasang slot kunci pintu, memperbaiki kran air, dan sebagainya. Karena hal-hal itu memerlukan peralatan khusus maka Bapak, saya dan suami berangkat ke Oesapa untuk membeli peralatan. Sebetulnya Bapak membawa peralatan seperti gunting dan obeng dari rumah, tapi disita petugas di bandara, hehehe...Bapak sebelumnya tidak tahu kalau benda itu terlarang di pesawat. Oya, kami juga membeli beberapa peralatan di Pasar Penfui. Saya sebenarnya cuma ikuti-ikutan berangkat karena ingin jalan-jalan, hehehe...
Awalnya, kami berkeliling-keliling naik motor berempat saja. Berhubung kendaraan yang terbatas, adik tidak bisa ikut, jadi hanya menunjukkan rute-rute untuk mengunjungi beberapa tempat. Iqbal pun tidak bisa ikut karena harus bekerja. Lalu lintas disini sepi. Di beberapa persimpangan selalu ada bundaran dengan tugu-tugu yang khas. Dan dengan jumlah kendaraan yang tidak banyak, alhasil tidak ada kemacetan.
Kami sempat melihat Pantai Oesapa dan pasar tradisional. Pantai Oesapa yang kami kunjungi sangat sepi, yah...mungkin juga karena kami datang di siang hari saat terik matahari. hihihi...Sebaliknya, di hari berikutnya, pasar tradisional yang kami datangi di pinggir pantai cukup ramai. Saat itu, Ibu membeli beberapa sayuran, sedangkan Bapak membeli udang. Sepertinya Bapak masih semangat mencoba hasil perikanan lokal. Beberapa hari lalu, Bapak membeli ikan yang cukup besar di pinggir pantai Oesapa. Entah apa namanya, yang jelas rasanya enak semua :-)
Kami semua juga sempat berkeliling-keliling naik motor kalau Iqbal tidak sibuk. Kami berangkat dengan 3 motor yang ada. Iqbal mengantar kami wisata kuliner pada malam hari. Walaupun di pinggir jalan, tapi kami puas menikmati jagung pulut dan es pisang ijo yang dihidangkan.
Setelah itu, kami diantar makan seafood di dekat pantai. Saya lupa nama tempatnya. Tempatnya sangat ramai. Hampir saja kami tidak kebagian tempat duduk. Saya lihat orang asing pun datang jalan-jalan ke tempat itu dengan memakai kaos oblong dan sendal jepit saja. Sayang sekali, saya lupa mengambil foto saat itu. Kami memesan 3 ikan bakar dan cah kangkung. Memang sih...seafoodnya tidak jauh berbeda dengan yang ada di Bogor. Tapi, makanannya ludes kok :-D
Pantai disini sepertinya bukan wisata yang langka lagi untuk warga lokal. Karena, lagi-lagi kami mengunjungi pantai yang sangat sepi dari pengunjung.
Pantai Lasiana namanya. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Penfui. Pantai ini berpasir dan berkerikil putih yang tetap indah dipandang. Kami datang kesana pada sore hari hingga tenggelamnya matahari. Indahnya tidak kalah lho dari Pantai Kuta :-)
Tidak lupa kami pun menginjakkan kaki di satu-satunya mal Kupang sehari sebelum pulang. Hihi...dasar...Jauh-jauh akhirnya ke mal juga. Yah...mal dimana-mana memang sama saja. Nothing special...Kami hanya membeli buah-buahan di Hypermart dan roti untuk bekal di pesawat saat pulang nanti.
Kalau dipikir-pikir lucu juga. Ketika kami baru tiba, adik bingung mau mengajak kami jalan-jalan kemana. Katanya, di Kupang tidak ada objek wisata. Tapi saya merasa sangat puas jalan-jalan. Selama beberapa hari kami pun tidak bepergian kemana-mana. Hanya berleha-leha di rumah memandangi halaman belakang, tapi saya sangat menikmatinya. Apalagi ketika pesawat hilir mudik tidak jauh dari rumah :-D
Saya puas merasakan suasana yang jauh berbeda. Suasana yang tenang, bebas dari kemacetan, cuaca yang cerah dan keramahan warganya. Entah kenapa, menurut saya, langit pun jauh lebih menawan. Tidak bosannya saya pandangi di pagi, siang, dan sore hari. Masya Allah indahnya.....
Mungkin ada satu hal yang "unik" kami rasakan disana. Air bersih agak sulit diperoleh. Jadi, kami harus merelakan beberapa hari tidak mandi karena air yang ditampung hanya cukup untuk berwudhu. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu ada iklan air mineral yang mengajak untuk berdonasi agar daerah NTT (kalau tidak salah sih...maaf ya kalau salah...) memiliki air bersih yang memadai. Nah, disitulah baru terasa nikmat yang selama ini saya anggap biasa-biasa saja. Selebihnya, everything's great :-)
Akhirnya, waktunya saya dan suami pulang kembali ke Bogor. Kami sudah siap dengan oleh-oleh keripik jagung, dodol lontar, dan alat musik sasando. Bapak dan Ibu tidak ikut pulang. Katanya ingin merasakan suasana berpuasa disana. Kebetulan saat itu beberapa minggu sebelum bulan Ramadhan. Ketika pesawat kami masih berada di atas kota Jakarta, muncul deh "mellow"nya. Sambil memandangi pemandangan di bawah sana dari jendela, saya berpikir, "wah pulau Jawa ini padat sekali ya, berbeda sekali dengan Kupang". Duh..kangen sama Kupang :-)
Berawal dari niat kami untuk mengunjungi Isti dan Iqbal, adik kami yang sudah menikah dan tinggal di Kupang maka berangkatlah kami pada awal Juli 2013. Karena tujuan kami cukup jauh,saya dan suami sengaja mengambil cuti yang panjang agar puas menikmati Kupang. Percuma dong pergi jauh-jauh kalau cuma sebentar, hehehe.....Tentunya, kami berangkat dengan Bapak dan Ibu, kedua orang yang paling berminat untuk mengetahui bagaimana kabar adik kami di Kupang. Saat itu, Bapak dan Ibu baru saja pensiun, jadi sangat bersemangat untuk berpetualang :) Maklum, kami semua sejak lahir sampai dewasa tidak pernah jauh dari Jawa Barat, hehe..
Berhubung kami berempat belum pernah naik pesawat, kami betul-betul "manut" mengikuti segala instruksi Isti, hehehe......Mulai dari cara memesan tiket, berat barang bawaan yang disimpan di bagasi, jenis barang yang boleh disimpan di bagasi, cara check in, dsb. Pokoknya, kami merasa excited sekaligus berdebar-debar, hehehe.
Pagi itu, Mang Ade, paman saya, berbaik hati mengantar kami ke bandara. Setelah menunggu cukup lama di Bandara Soetta, akhirnya kami berangkat pada pukul 11 siang dengan pesawat Sriwijaya Air. Kami sempat transit beberapa menit di Bandara Juanda, Surabaya. Terlintas di pikiran saya bahwa Bandara Juanda jauh lebih bersih dan rapi dibandingkan Bandara Soetta. Kenapa ya ?Hmmm....ya sudahlah....
Akhirnya kami menginjakkan kaki di Kupang pada sore hari . Kupang ini termasuk daerah Waktu Indonesia Tengah jadi perjalanan terasa cukup lama saya rasakan. Adik kami sudah menunggu di tempat penjemput di Bandara El Tari, tidak jauh dari rumahnya yaitu di Penfui. Setelah kami sampai di rumah, ternyata Bandara El Tari memang terletak di belakang rumahnya.
![]() |
| Bandara El Tari |
Sesekali ada beberapa kerbau yang datang merumput di halaman belakang. Saya betah berlama-lama duduk di halaman belakang menikmati pemandangan ini ditemani si Pus dan sambil dikipasi angin yang berhembus kencang :-)
| Si Pus menyapa "tamu" |
Rumah adik bersebelahan dengan beberapa tetangga yang juga teman kerja Iqbal, suami adik. Tetangga disini sangat baik dan ramah. Salah satu tetangga meminjamkan motornya untuk kami pakai berkeliling-keliling Kupang selama beberapa hari. Bahkan, ada seorang teman Iqbal (yang bukan tetangga) yang menawarkan mobilnya agar kami bisa berwisata ke pantai yang jauh lokasinya. Tentu saja kami menolaknya karena sungkan, walaupun........sangat menggiurkan :-)
Pada hari-hari berikutnya, Bapak memulai aksinya untuk "merapikan" rumah. Bapak memangkas semak belukar, memperbaiki kabel listrik, memasang slot kunci pintu, memperbaiki kran air, dan sebagainya. Karena hal-hal itu memerlukan peralatan khusus maka Bapak, saya dan suami berangkat ke Oesapa untuk membeli peralatan. Sebetulnya Bapak membawa peralatan seperti gunting dan obeng dari rumah, tapi disita petugas di bandara, hehehe...Bapak sebelumnya tidak tahu kalau benda itu terlarang di pesawat. Oya, kami juga membeli beberapa peralatan di Pasar Penfui. Saya sebenarnya cuma ikuti-ikutan berangkat karena ingin jalan-jalan, hehehe...
| Bapak sedang sibuk :-) |
Kami sempat melihat Pantai Oesapa dan pasar tradisional. Pantai Oesapa yang kami kunjungi sangat sepi, yah...mungkin juga karena kami datang di siang hari saat terik matahari. hihihi...Sebaliknya, di hari berikutnya, pasar tradisional yang kami datangi di pinggir pantai cukup ramai. Saat itu, Ibu membeli beberapa sayuran, sedangkan Bapak membeli udang. Sepertinya Bapak masih semangat mencoba hasil perikanan lokal. Beberapa hari lalu, Bapak membeli ikan yang cukup besar di pinggir pantai Oesapa. Entah apa namanya, yang jelas rasanya enak semua :-)
![]() |
| Hanya ada beberapa perahu tak bertuan di Pantai Oesapa |
Kami semua juga sempat berkeliling-keliling naik motor kalau Iqbal tidak sibuk. Kami berangkat dengan 3 motor yang ada. Iqbal mengantar kami wisata kuliner pada malam hari. Walaupun di pinggir jalan, tapi kami puas menikmati jagung pulut dan es pisang ijo yang dihidangkan.
| Jagung dinikmati bersama dengan sambalnya yang bervariasi |
Pantai disini sepertinya bukan wisata yang langka lagi untuk warga lokal. Karena, lagi-lagi kami mengunjungi pantai yang sangat sepi dari pengunjung.
Pantai Lasiana namanya. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Penfui. Pantai ini berpasir dan berkerikil putih yang tetap indah dipandang. Kami datang kesana pada sore hari hingga tenggelamnya matahari. Indahnya tidak kalah lho dari Pantai Kuta :-)
Tidak lupa kami pun menginjakkan kaki di satu-satunya mal Kupang sehari sebelum pulang. Hihi...dasar...Jauh-jauh akhirnya ke mal juga. Yah...mal dimana-mana memang sama saja. Nothing special...Kami hanya membeli buah-buahan di Hypermart dan roti untuk bekal di pesawat saat pulang nanti.
Kalau dipikir-pikir lucu juga. Ketika kami baru tiba, adik bingung mau mengajak kami jalan-jalan kemana. Katanya, di Kupang tidak ada objek wisata. Tapi saya merasa sangat puas jalan-jalan. Selama beberapa hari kami pun tidak bepergian kemana-mana. Hanya berleha-leha di rumah memandangi halaman belakang, tapi saya sangat menikmatinya. Apalagi ketika pesawat hilir mudik tidak jauh dari rumah :-D
| Penampakan Bandara El Tari dari halaman belakang rumah |
![]() |
| Matahari terbit |
Mungkin ada satu hal yang "unik" kami rasakan disana. Air bersih agak sulit diperoleh. Jadi, kami harus merelakan beberapa hari tidak mandi karena air yang ditampung hanya cukup untuk berwudhu. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu ada iklan air mineral yang mengajak untuk berdonasi agar daerah NTT (kalau tidak salah sih...maaf ya kalau salah...) memiliki air bersih yang memadai. Nah, disitulah baru terasa nikmat yang selama ini saya anggap biasa-biasa saja. Selebihnya, everything's great :-)
![]() |
| Sholat maghrib di masjid dekat rumah setelah jalan-jalan |
Akhirnya, waktunya saya dan suami pulang kembali ke Bogor. Kami sudah siap dengan oleh-oleh keripik jagung, dodol lontar, dan alat musik sasando. Bapak dan Ibu tidak ikut pulang. Katanya ingin merasakan suasana berpuasa disana. Kebetulan saat itu beberapa minggu sebelum bulan Ramadhan. Ketika pesawat kami masih berada di atas kota Jakarta, muncul deh "mellow"nya. Sambil memandangi pemandangan di bawah sana dari jendela, saya berpikir, "wah pulau Jawa ini padat sekali ya, berbeda sekali dengan Kupang". Duh..kangen sama Kupang :-)





